Jalur Prestasi PTN yang Sering Menuai Kontroversi

Ilustrasi catur. Gambar : chess.com

Beberapa saat yang lalu, publik sempat dihebohkan dengen pro-kontra jalur prestasi penghafal kitab suci yang baru diusulkan kepada rektor UGM. Belakangan, IPB juga memunculkan wacana untuk mengadakan jalur prestasi bagi ketua OSIS.

Jalur prestasi, sesuai namanya, adalah salah satu jalur masuk PTN yang skemanya menggunakan kriteria prestasi khusus. Ada banyak macam jalur prestasi yang biasanya ada di PTN, beberapa di antaranya adalah prestasi olahraga, bela diri, bahkan catur.

Jalur prestasi sering menjadi kontroversi, terutama karena dianggap tidak relevan dengan materi perkuliahan. Tapi, sebenarnya jalur prestasi tidak hanya menyaring berdasarkan prestasi yang bisa jadi kontroversial itu.

Jika kamu merupakan juara catur, dan ikut seleksi jalur prestasi kategori catur, bukan berarti kamu akan dites bermain catur dan masuk ke jurusan Teknik Percaturan. Ada kriteria khusus dari masing-masing jalur prestasi, contohnya, skala prestasi tersebut ada di tingkat nasional dan berbagai macam persyaratan yang tentunya bukan untuk ‘menjual murah’ kursi PTN.

Setelah itu, para pelamar  jalur prestasi juga akan disaring. Tidak semua pelamar jalur prestasi bisa masuk, dan tidak ada jaminan mereka pasti masuk. Sekali lagi yang harus dicatat, tidak ada jaminan pelamar jalur prestasi pasti lolos ke PTN yang dituju. Pelamar juga akan menghadapi berbagai macam rangkaian seleksi, termasuk tes tulis. Hal ini sangat bergantung pada masing-masing PTN yang menyelenggarakan.

Kuota jalur ini pun terbilang kecil, bahkan sangat kecil, karena ini termasuk jalur mandiri, bukan jalur nasional. Kamu bisa baca penjelasan lebih lengkap mengenai jalur mandiri dan jalur nasional di sini.

Ada ketentuan yang mengharuskan PTN untuk mengalokasikan jalur nasional lebih besar dari jalur mandiri. Jalur mandiri pun punya batas maksimal dalam penerimaannya, misalnya hanya 30%, kuota ini bisa berubah tergantung dari kebijakan pemerintah.

Permisalannya seperti ini, jika UGM mengadakan jalur mandiri dengan kuota 30%, maka biasanya UGM akan mengadakan jalur ujian tulis mandiri yang juga dikenal dengan UTUL UGM. Jalur ujian tulis ini biasanya memegang proporsi paling besar, misal 90% dari total kuota jalur mandiri, atau 90% dari 30% total calon mahasiswa baru di UGM. Maka 10% sisanya bisa dialokasikan ke jalur prestasi minat bakat, seperti jalur prestasi olahraga, bela diri, catur, seni, budaya, dan sebagainya. Angka ini hanya contoh, karena angka pastinya hanya diketahui oleh pihak PTN bersangkutan.

Selama ini, sangat jarang sekali ada jurusan yang menerima mahasiswa lebih dari 3 orang untuk suatu kategori prestasi. Jika ada orang yang masuk melalui jalur prestasi catur ke jurusan Kedokteran, maka silakan dicek, berapa jumlahnya dan bandingkan dengan jumlah total mahasiswa baru di jurusan tersebut. Dan juga, tidak semua jurusan meloloskan pendaftar dari setiap kategori.

Jalur ini bertujuan untuk memberikan keadilan dan mengakomodasi mereka yang memiliki prestasi non-akademik, tapi tidak terlalu menonjol dalam prestasi akademik. Mereka yang berprestasi di jalur non-akademik juga mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, meski jurusan yang dipilih tidak sesuai dengan jalur prestasinya.

Mengejar prestasi dalam bidang non-akademik pun bukan hal yang mudah. Untuk menjadi juara basket misalnya, kadang harus rela menghabiskan waktunya sepulang sekolah untuk terus berlatih. Mereka yang punya prestasi di bidang seni, juga harus selalu meningkatkan kemampuan artistiknya di samping harus memenuhi tuntutan akademik supaya tetap bisa naik kelas.


Banyak yang menuntut agar pemerintah bisa menghargai seniman, atlit, dan mereka yang punya prestasi non-akademik lainnya, tapi ketika mereka diakomodasi untuk bisa mendapat penyetaraan hak, juga banyak protes yang muncul.

Baik jawara olahraga, bela diri, seniman, pecatur, ketua organisasi, bahkan penghafal kitab suci, semua mendedikasikan waktu dan tenaga mereka untuk sesuatu yang mungkin mereka sebut sebagai ‘passion’, dan itu bukan hal mudah. Bahkan mungkin mereka harus rela untuk tidak mempersiapkan SBMPTN demi meraih prestasinya itu.

Kita tidak bisa menghakimi seorang juara catur payah dalam bidang sains. Kita juga tidak bisa menghakimi seorang seniman tidak punya kemampuan menjadi seorang akuntan. Karena sangat mungkin seseorang mempunyai berbagai macam keahlian.

Mereka yang menjadi juara catur, seniman, maupun peraih prestasi non-akademik lain juga berhak menggapai mimpinya untuk menjadi seorang saintis, advokat, enjiner, maupun dokter jika memang ia mampu.

Dan yang penting untuk dicatat, mereka juga akan menjalani berbagai rangkaian seleksi untuk kuota yang sangat kecil itu, dan, ya, semua yang mendaftar tidak pasti lolos, karena kampus tetap akan memilih yang terbaik.

No comments

Silakan berikan komentar kamu dengan tetap menjaga etika.

Powered by Blogger.